Disertasi Dr. M. Isfironi Tentang Gandrung Sewu (Bagian 1)
Antariksawan Jusuf (dipublikasikan pada Kamis, 23 Oktober 2025 05:51 WIB)
- Opini
Ater-Ater: Dr. Mohammad Isfironi, ngelakoni studi S3 ring UGM kelawan disertasi bab Gandrung Sewu taun 2024. Ringkesan disertasine diuwot mulai dina iki sampek dina Sabtu kisuk. Lare Karangrejo Banyuwangi kutha hang dadi dosen ring UIN Sunan Ampel Surabaya iki mulang ring FISIP lan Fakultas Syariah dan Hukum.
PAGELARAN GANDRUNG SEWU: SILANG HASRAT ELIT DALAM PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS KEBUDAYAAN
DI KABUPATEN BANYUWANGI
Mohammad Isfironi
NIM: 16/405397/SSA/00955
A. Latar Belakang dan Permasalahan
Pembentukan identitas kebudayaan masyarakat Banyuwangi dewasa ini
selalu dikaitkan oleh para elit dengan Kerajaan Blambangan di masa lalu. Para elit di Banyuwangi seperti budayawan, seniman, birokrat dan pemerhati sejarah/intelektual lokal serta elit agama selalu menjadikan Blambangan sebagai acuan dalam usahanya membentuk identitas lokal masyarakat Banyuwangi.
Blambangan adalah sebuah nama kerajaan di masa lalu yang eksis saat Majapahit runtuh pada tahun 1527 (Sudjana, 2001: 1; Samsubur, 2011: 31-35). Wilayah kekuasaan Kerajaan Blambangan mencakup yang saat ini masuk dalam wilayah geografis administratif Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang. Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo (Panarukan).
Sebagai sebuah nama Kerajaan di masa lalu, Blambangan secara meyakinkan
telah dibuktikan secara faktual keberadaannya oleh beberapa penulis sejarah (Sudjana, 2001; Samsubur, 2011; Margana, 2012). Karya para sejarawan di atas umumnya mengacu dan melanjutkan karya sebelumnya tentang Blambangan dari berbagai bidang kajian, seperti karya bidang filologi yang ditulis Brandes (1894). Pegeaud (1932), Ann Kumar (1779), Winarsih Arifin (1780), Daruprapta (1984), J.W. de Stoppelaar (1927), Atmosoedirdjo (1952), C. Lekkerkerker (1923), dan karya G.Th. Pigeaud (1932).
Berbagai karya di atas, memberikan kontribusi yang penting terhadap peningkatkan literasi masyarakat Banyuwangi atau masyarakat umum terutama para elitnya tentang Kerajaan Blambangan. Blambangan bukan lagi sebuah legenda namun sebuah kerajaan yang nyata ada dalam sejarah. Bagi masyarakat Banyuwangi yang dalam kategori atau mengklaim sebagai penduduk asli Banyuwangi, fakta sejarah tentang Blambangan menumbuhkan dan memperkuat kesadaran identitas mereka sebagai pewaris sejarah masa lalu Banyuwangi, yaitu Blambangan.
Banyuwangi, oleh para elit lokal cenderung dipandang identik dengan Blambangan dan diyakini sebagai kelanjutan dari perkembangan Blambangan.
Nama Banyuwangi dan Blambangan menjadi pembatas sebuah era yang secara formal ditandai dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dan administrasi kawasan timur pulau Jawa ini dari Ulupampang ke Banyuwangi yang terjadi pada tanggal 21 Nopember 1774 setelah sehari sebelumnya pada tanggal 20 Nopember 1774, Residen Schophoff, Bupati Wiraguna (Mas Alit) dan seluruh pejabat Belanda dan pribumi meninggalkan Ulupampang dan bertempat tinggal di Benteng dan rumah baru di Banyuwangi (Margana, 2012: 219). Peristiwa relokasi ibukota ke Banyuwangi ini pada masa selanjutnya menjadi isu besar tentang sejarah kota ini. Isu ini menguat saat Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1998 menetapkan tanggal 18 Desember sebagai hari jadi Banyuwangi.
Sejak saat itu isu tentang pendirian Banyuwangi tersebut selalu mewarnai proses pembentukan identitas masyarakat Banyuwangi.
Keberadaan serta kontroversi Mas Alit ini menjadi pemicu menguatnya hasrat rakyat Blambangan untuk terus mengingat sejarah perjuangan dan ”nggandrungi/gandrung” terhadap semangat perang Bayu. ”Gandrung/nggandrungi” semangat perang Bayu inilah yang terus mereka kobarkan saat dapat kembali berkumpul bersama-sama membabat hutan Tirto Arum. Joh. Scholte (1926) menggambarkan bagaimana serombongan lelaki jejaka keliling ke desa-desa bersama pemain gendang dan terbang serta penari sebagai penyebar
semangat sekaligus kode agar rakyat Blambangan yang tercerai-berai kembali
membangun Blambangan yang telah hancur di bawah kepemimpinan Mas Alit
sebagai Bupati baru dengan gelar Raden Tumenggung Wiroguno. Rombongan
para pria yang berkeliling menyampaikan pesan seperti itu yang dinamakan
gandrung, nggandrungi semangat larè Osing ”kang hing biso kebes nang pupuse
jaman.” (yang tidak bisa padam sampai akhir zaman). Akhirnya istilah ”gandrung” yang hadir untuk pertama kali sebagai manifestasi semangat heroik perang Bayu ini disematkan kepada kesenian yang terus diperagakan dalam rangka memberi semangat rakyat membangun Banyuwangi sampai hari ini.
Saat ini apa yang ditampilkan di ruang publik di Banyuwangi dikemas dalam
sebuah kegiatan yang disebut Banyuwangi Festival (B-Fest) menjadikan senibudaya dan adat istiadat Osing sebagai konten utamanya. Di dalam festival tersebut gandrung sewu ditampilkan sebagai pertunjukan favoritnya. Banyuwangi Festival yang digelar sepanjang tahun menawarkan berbagai kegiatan yang menarik bagi para wisatawan. Pada tahun 2018 telah terjadwal dan terlaksana sebanyak 77 macam festival yang terbagi pada setiap bulan. Banyuwangi Festival (Bfest), yang berisi berbagai pertunjukan dan karnaval yang dibayangkan oleh Bupati Abdullah Azwar Anas akan menjadikan Banyuwangi sebagai Kota Festival.
Saat Kabupaten Banyuwangi dipimpin Bupati T. Purnomo Sidik tahun 1995-
2000, mulai dibuka kebijakan dalam bidang budaya dalam kaitannya dengan
pariwisata. Bupati Samsul Hadi, saat memerintah pada tahun 2000-2005 mengajak masyarakat Banyuwangi untuk menghidupkan nilai-nilai budaya Osing.
Terinspirasi oleh lirik lagu “Isun Laré Osing", Bupati Samsul mempopulerkan
semboyan Jenggirat Tangi (bangun dengan antusias). Selama masa sepuluh tahun pemerintahannya, tahun 2010-2020 hasrat Bupati Azwar Anas terhadap senibudaya dan tradisi di Banyuwangi berkecenderungan lebih sistemik melalui kebijakan kebudayaannya. Secara umum seluruh masa kepemimpinan Bupati di Banyuwangi dari Purnama Sidik sampai Abdullah Azwar Anas, identitas bahasa, budaya, dan suku Osing tetap dipertahankan dengan pemaknaan mereka masing-masing.
Proses pembentukan identitas masyarakat Banyuwangi secara aktual dapat diamati dari hasrat di balik pergelaran Gandrung Sewu. Wujud dari Gandrung Sewu adalah berupa tari gandrung yang digelar secara kolosal oleh seribu penari. Gandrung Sewu adalah pergelaran paling favorit yang diagendakan dalam Banyuwangi Festival. Gandrung diyakini sebagai kesenian asli Banyuwangi. Ia diyakini lahir bersamaan dengan lahirnya Banyuwangi yang membawa spirit Blambangan. Saat perang Bayu (1771-1773) yang disebut sebagai perang yang mencerai-beraikan rakyat Blambangan, gandrung hadir sebagai media untuk menyatukan kembali rakyat Blambangan di bawah kepemimpinan baru Tumenggung Wiraguna atau yang lebih dikenal Mas Alit sebagai Bupati Banyuwangi. Citra heroik dari sejarah gandrung yang diekspresikan dalam citra estetik pergelaran Gandrung Sewu menjadikan gandrung terus eksis dengan berbagai pemaknaan yang tidak tunggal. Salah satu pemaknaan yang dominan adalah relevansinya dengan citra baru yang dibayangkan oleh Bapati Anas melalui Banyuwangi Festival.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengkaji masalah, mengapa para elit di Banyuwangi dalam membangun identitasnya selalu mengaitkan dengan Blambangan sebagaimana terwujud dalam pergelaran Gandrung Sewu ?
Selanjutnya secara rinci penelitian ini dilakukan untuk mengkaji tiga hal,
pertama, daya apakah yang menjadikan hasrat para elit masyarakat yang peduli
pada sejarah, pelaku seni budaya serta pemerhati seni budaya di Banyuwangi terus tumbuh dalam berkebudayaan dan berkesenian dengan menjadikan Blambangan sebagai acuan sebagaimana terepresentasi pada pagelaran Gandrung Sewu?
Kedua, bagaimana tarik menarik antara hasrat berkebudayaan masyarakat
Banyuwangi dan reifikasi terhadap produk kebudayaan oleh pemerintah daerah
Banyuwangi melalui citra pariwisata membentuk identitas kebudayaan
Banyuwangi sebagaimana tergambar dalam pagelaran Gandrung Sewu?
Ketiga, mengapa masyarakat Banyuwangi menerima Osing sebagai identitas kebudayaannya di tengah fakta aktual di Banyuwangi yang plural secara etnik sebagaimana tergambar dalam pagelaran Gandrung Sewu?
B. Kajian Pustaka
Banyuwangi sebagai subjek kajian telah ditulis oleh para sarjana dalam berbagai bidang kajian dengan fokus sesuai minat penulisnya. Beberapa karya tentang Banyuwangi diantaranya yang dipandang relevan dibahas disini berkategori yang membahas sejarah Blambangan/Banyuwangi (I. Made Sudjana, 2001; Robert van Niel, 2005; Sri Margana 2012;), tentang seni budaya Banyuwangi (Novie Anoegrajekti, 2010; Nur Ma’rifa dkk., 2017) dan identitas masyarakat Banyuwangi (Robert Wessing, 1999; 2012; Andrew Beatty, 1999; 2009; Ben Arps, 2009; 2010).
Tiga kategori di atas bukan dimaksudkan sebagai kategori yang kaku karena masing-masing dapat dikelompokkan dalam kategori lebih dari satu. Misalnya karya Margana bukan hanya membahas sejarah Blambangan dalam kurun waktu tertentu, namun juga realitas kehidupan sosial-budaya masyarakat Blambangan di 5masa lalu yang kelak dijadikan penanda identitas masyarakat Banyuwangi.
Demikian pula kedua karya Beatty adalah sebuah karya etnografi yang memberikan informasi yang kuat tentang penanda identitas Banyuwangi.
(Dilanjutkan bagian 2, Landasan Teori)
Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.

-7561.jpg)
-15736.jpg)
-66287.jpg)
-27549.jpg)
-74243.jpg)
-66656.jpg)