Dubang, Gurit Using dari Sastrawan Abdullah Fauzi

Elvin Hendratha (dipublikasikan pada Rabu, 03 Februari 2021 06:56 WIB)
- Resensi



Pada tahun 2002 tabloid “Padha Nonton” memuat sebuah gurit menarik karya dari H.Abdullah Fauzi. Gurit diletakkan dalam halaman V (lima) pada kolom artikel “Menginang” tulisan sastrawan dan pengarang lagu Mahawan. Gurit ini sangat menarik, karena banyak sekali diksi dan wangsalan anyar yang digali dari tradisi kearifan lokal dan mantra-mantra nginang.  Sayangnya Tabloid yang dicetak dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-231 itu, tak sampai seumur jagung. Sekali terbit, setelah itu mati.

H.Abdullah Fauzi sastrawan Banyuwangi angkatan Jurnalistik seangkatan dengan Sentot Parijoto dan Adji Darmadji, penulis buku antologi puisi Ngerambah Ati (April 2018) terbitan Sengker Kuwung Belambangan itu menuliskan guritnya Dubang yang tercantum dalam tabloid “Padha Nonton” sebagai berikut:

DUBANG

sak lembar suruh aja bubar
aja gupuh
poletan enjet sun jaluk
seduluran hang jangget
sekuthek gambir ati dipethek
umur diijir
sekeplik jambe ayo balik
nang hang duwe

suruh dilepit aju dipamah
mata melek merem seseg
diginyer-ginyer duh adon
seru antenge
sendhen saka nyemandhing wanci
paidon bumbung hang dipangku

suruh ijo enjet putih
jambe soklat
gambir kemabang
ajur dadi siji
wis anjerah adon
ngetoaken dubang
Cul sak camah-camahe
dubang tetep duwe aran
aja keranta-ranta

 

Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: skb@belambangan.com atau WA telp 0811843457


Tradisi Nginang di Banyuwangi dilakukan wanita paruh baya, sebagai warisan tradisi turun temurun yang memiliki nilai-nilai sosial masyarakat. Sebagaimana merokok, minum teh/kopi, Nginang menjadi alat pergaulan. Nginang dilakukan juga sebagai suguhan tamu, cara dengan mengunyah sirih, dicampur dengan: pinang, sirih, gambir, enjet dan susur (tembakau) sebagai pembersihnya.

Adalah Mbah Musarofah atau Mbah Pah (berumur 90 tahun pada saat itu) penduduk Kemasan Lebak menjadi sumber inspirasinya. Mbah Pah yang setiap hari sebagai tukang pijat bayi yang juga Buyut Adon dari istri lelaki kelahiran Pengantigan Banyuwangi itu, selalu membaca mantra pada saat Nginang. Setiap berkunjung kerumahnya di Panderejo, Fauzi tertarik mencatat mantra-mantra yang dirapal neneknya itu. Diam-diam mantra yang keluar dari bibir sembari menggigit sisig itu dirangkainya dengan melakukan beberapa perubahan diksi dan rima menjadi puisi indah. Mbah Pah, setiap langkah mengambil bahan racikan selalu merapalkan mantra orang nginang. “Ijo-ijo Godhong suruh, kadhung niat mbojo, kudu akeh weruh tapi aja kemuruh”, yang dirapalkan saat mengambil suruh menginsiprasinya.

Menelaah gurit Using Dubang, selintas sepertinya Kang Ujik  hanya sekedar memotret peristiwa tradisi Nginang di Banyuwangi. Walau sebenarnya tidaklah demikian, Kang Ujik banyak mengirim kode-kode amanat yang terbungkus rapi pada detail diksi dan wangsalan pada guritnya. Falsafah kehidupan yang ditangkap Kang Ujik, sengaja dihembuskan melalui semprotan dubang. Kang Ujik mengirim signal pesan: Berbeda-beda tetapi dalam satu tujuan, jangan bercerai berai, jangan tergesa-gesa, perlunya persaudaraan, dan diingatkan bahwa pada akhirnya kita akan kembali pada-Nya.

Gurit ini bisa juga mengandung pesan tentang hubungan vertikal sekaligus bersifat horizontal. Bisa hubungan dengan Sang Pencipta, atau hubungan sesama manusia. “sekuthek gambir ati dipethek/umur diijir/sekeplik jambe ayo balik/nang hang duwe”. Gambir dipersonifikasikannya sebagai hati, hati yang dalam ketertekanan telah cukup lama dan kehilangan banyak waktu, harus kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Namun bisa jadi Fauzi memang sengaja menggambarkan hati yang tengah mengembara cinta dalam ketertekanan dan mulai menua, harus memilih kembali kepada tambatan hati awal. Hal ini dikuatkan melalui bait kedua, yang susunannya larik dibuat berlompatan:

suruh dilepit aja dipamah
mata melek merem seseg
diginyer-ginyer duh adon
seru antenge
sendhen saka nyemandhing wanci
paidon bumbu hang dipangku

Tanaman suruh (daun sirih) memiliki simbol mistikisme yang dianggap sakral, setiap ritual di tanah Jawa banyak menggunakannya sebagai ubarampe (sesajen). Dalam legenda Jawa, Jaka Tingkir membunuh Dadungawuk  yang sakti mandraguna hanya dengan Sadak Kinang. Sadak Kinang, yang berarti dahan sirih, kadang diartikan sebagai daun sirih itu sendiri oleh versi-versi legenda lainnya, beberapa pengamat menerjemahkannya daun sirih sebagai simbol dari bagian penting wanita. Setidaknya sirih cukup populer sebagai antiseptik alami yang digunakan oleh wanita di tanah Jawa.  

Melalui tradisi nginang Kang Ujik seperti menyampaikan kegalauan cinta. Cinta erotis intimnya mengalami kebuntuan mendekati bubar, kemudian diekspresikannya melalui dubang. Perbedaan dan putus cinta yang akan terjadi, diharapkan tidak akan membuat memisahkan persaudaraan: sak lembar suruh aja bubar.   

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Sumber : Elvin Hendratha

Editor: Antariksawan Jusuf