Membaca Penelusuran, Penyingkapan, dan Pemetaan Angklung Banyuwangi

Elvin Hendratha (dipublikasikan pada Senin, 29 Maret 2021 07:23 WIB)
- Resensi



Menjelang peluncuran buku karya saya berjudul Angklung - Tabung Musik Blambangan, berikut sebuah resensi dan telaah yang ditulis oleh Dwi Pranoto terhadap buku terbitan Sengker Kuwung Belambangan. 
                                      * * *

Membaca Penelusuran, Penyingkapan, dan Pemetaan Angklung Banyuwangi
: Tinjauan Singkat atas Angklung: Tabung Musik Blambangan

Dwi Pranoto

Hang arane kethuk jare kempul
Jajang pelanggrangane golet noring Telemung
Timbang keneng kethuk bangur padha kumpul
Angklunge sakat mau wis rame padha ngungkung

Seorang administratur kolonial, seperti dicatat oleh  Mark Elvin dalam The Retreat of the Elephants: An Enviromental History of China (2004) yang kemudian dikutip oleh James C. Scott dalam kajiannya tentang wilayah Zomia di kawasan Asia Tenggara Daratan yang berjudul The Art of Not Being Governed (2009), dengan nada putus asa menuliskan upayanya untuk memetakan suatu wilayah ekologis beserta para penghuninya yang keras kepala:

Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: skb@belambangan.com atau WA telp 0811843457


Tatanannya sulit untuk dipahami dengan gamblang, punggung-punggung gunung dan puncak-puncaknya nampak sama. Oleh karenanya mereka yang menjelaskan pola pokok pegunungan dipaksa berbicara panjang-lebar. Dalam beberapa kasus, untuk menggambarkan sekedar sekian kilometer percabangan memerlukan setumpuk dokumentasi, dan untuk menuliskan ulasan pokok perjalanan dalam sehari menghabiskan berbab-bab berurutan.

Begitu pula mengenai keruwetan logat-logat setempat, dalam rentang lima puluh kilometer sealiran sungai bisa punya lima puluh nama dan sebuah pemukiman seluas satu setengah kilometer bisa punya tiga nama. Alangkah tak dapat diandalkan sistem tata penamaan di sini.

Barangkali kesulitan-kesulitan yang dialami administratur kolonial di atas mirip seperti kesulitan  yang dialami oleh Elvin Hendratha saat ia dalam proses menyusun kajiannya tentang angklung Banyuwangi; Angklung: Tabung Musik Blambangan. Periwayatan asal-usul, pewarisan pengetahuan dan keterampilan, perkembangan dan pertumbuhan, angklung Banyuwangi yang hampir keseluruhannya berlangsung dan eksis dalam dunia lisan seperti menciptakan lorong-lorong labirin yang gampang menyesatkan bagi orang yang ingin menyibakannya. Karakteristik khas dunia lisan yang simpang-siur itu tercermin, antara lain, dari beragamnya peristilahan teknis, variasi klaim historis, dan perbedaan-perbedaan larasan instrumen musikal. Segala kesulitan itu ditambah lagi dengan acuan tangga nada angklung Banyuwangi yang tidak tercakup dalam dua pengelompokan besar jenis tangga nada yang lazim berlaku, pelog dan slendro. Meskipun cenderung slendro, angklung Banyuwangi tidak juga dapat dikatakan slendro yang sesungguhnya. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya nada-nada pelog juga diakomodir dalam angklung Banyuwangi. Kesulitannya menjadi berlipat ganda saat menggali informasi angklung Banyuwangi dari sebagian pelaku yang keras kepala dan cenderung “mengalihkan” pembicaraan. Dalam konteks ini saya menduga kekeraskepalaan dan penyelimuran para pelaku itu merupakan manifestasi tingginya kepercayaan diri para pelaku angklung Banyuwangi. Sudah barang tentu kesulitan-kesulitan itu menjadi sangat menjengkelkan dan bahkan mungkin tak bisa ditolerir apabila segala keragaman itu hendak diringkus atau hendak diletakkan dalam konsep baku tunggal.

Didalam Angklung: Tabung Musik Blambangan, pembaca dapat menemukan jejak-jejak betapa kelompok-kelompok angklung Banyuwangi yang pengorganisasiannya membasis pada komunitas sosial (desa dan dusun/lingkungan) mempunyai “bahasa” yang cenderung berbeda-beda dalam mengistilahkan teknik-teknik musikal, pelarasan (tuning) instrumen, membaca notasi tangga nada, memaknai simbol-simbol angklung, mengisahkan riwayat historis, dan penanggapannya atas perkembangan dan pertumbuhan angklung. Sebagai misal, menurut Elvin Hendratha, setidaknya ada tujuh cara membaca notasi tangga nada angklung: No-Ne-Ni-Nu-Na; Ji-Ro-Lu-Mo-Nem; Ro-Re-Ri-Ru-Ra; Tho-The-Thi-Thu-Na; Do-Re-Mi-Sol-La; Co-Ce-Ci-Cu-Ca; Lo-Le-Li-Lu-La. Begitupun dengan penyeteman atau tuning frekwensi yang juga beragam sesuai dengan kelompok atau komunitas dan periodenya. Sementara ornamen ular/naga pada perangkat angklung yang ditelusuri Elvin sampai ke masa kerajaan Macan Putih, foto-foto di halaman-halaman buku karangan cerdik-pandai Eropa dan koran atau majalah yang terbit dari paruh pertama abad dua puluh sampai kurang lebih tahun 80-an, hingga keberadaannya saat ini, bukan saja menunjukan perubahan-perubahan dalam bentuk, dimensi dan tata letaknya. Ornamen ular/naga itu juga dimaknai berbeda-beda, sebagai misal, Akhmad Aksara (budayawan Banyuwangi) menganggap ormanen itu hanya berfungsi sebagai dekorasi saja atau hiasan; Andang C.Y. (pengarang lirik lagu-lagu Banyuwangi) memaknainya sebagai representasi keharmonisan pemimpin dan rakyatnya; Kuncoro Prasetyaning Widi memaknainnya sebagai sandi gambar tahun saka, sengkala memet. Bahkan, pada paruh akhir tahun 90-an, terjadi gugatan ornamen angklung naga itu yang naik melata di atap pendopo Kabupaten. Menurut seorang Ketua Anshor Banyuwangi, ular atau naga itu adalah lambang kelicikan.

Segala perbedaan dan perubahan berkait angklung Banyuwangi menunjukan kedinamisan musik angklung, pun sekaligus merepresentasikan hubungan-hubungan sosial, politis, dan ekonomis yang dikarakterisasi oleh kondisi-kondisi teknologis baik sebagai alat produksi maupun pengorganisasian birokratis. Seperti dicatat oleh Elvin Hendratha bahwa  perubahan ornamen naga angklung yang sebelumnya mengambil model dimensi wayang golek, pada tahun 1936 berubah menjadi model dimensi wayang kulit dengan diprakarsai oleh Bupati Banyuwangi saat itu yang berasal dari Jawa Kulonan atau wilayah Mataraman. Tumbuh pesatnya industri rekaman (pita kaset) mengubah mode pendistribusian, jumlah alat musik yang digunakan dalam ensemble angklung, penyeteman, dan perluasan fungsinya. Sementara selepas huru-hara berdarah tahun 1965, bersama dengan berkuasanya rezim orba, penertiban dan pengendalian musik angklung Banyuwangi tampaknya cenderung menghabisi landasan komunal kelompok angklung Banyuwangi bersama dimunculkan dan digalakannnya istilah dan pembentukan Angklung Daerah oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pertama di masa Soeharto itu. Pembentuk Kelompok Angklung Pemerintah dan beragam instrumen penyensorannya seperti menciptakan kiblat atau standar kesenian angklung baru.

 Angklung: Tabung Musik Blambangan karya Elvin Hendratha merupakan upaya untuk mendeskripsikan perjalanan dan perubahan-perubahan historis; mengenali dan memperkenalkan istilah, praktik teknis, kelompok-kelompok, dan pelaku-pelaku kesenian angklung Banyuwangi; dengan menggunakan pendekatan yang cenderung hendak ilmiah dalam persoalan-persoalan teknik musikal dan “apolitis” atau “netral” dalam melihat dan menyibak pertumbuhan-perkembangan angklung Banyuwangi. Secara garis besar, berangkat dari mengidentifikasi jenis-jenis instrumen, teknik-teknik memainkan, dan komposisi-komposisi musikal, Elvin Hendratha berupaya melakukan pengkategorian atau pengelompokan dan pengadministrasian berbagai kelompok angklung dan varian-varian musik angklung dalam periode-periode pertumbuhan dan perkembangannya. Elvin tampaknya juga berusaha meredam gemuruh politik pada masa rezim Soekarno yang menyeret kesenian angklung berkelindan dengan partai-partai politik melalui lembaga keseniannya masing-masing. Bagi Elvin, kesenian angklung dalam hiruk-pikuk politik pada masa itu praktis hanya berfungsi agar program partai menarik dan dimanfaatkan untuk mendulang suara: “ . . . digunakan sebagai alat propaganda program partai dan untuk memperoleh tambahan suara” (hal.113). Elvin rupanya tidak hendak mengenali atau mengabaikan konsep-konsep seni masing-masing lembaga kebudayaan partai, semisal doktrin realisme-sosialis yang menjadi haluan berkesenian Lekra. Lebih mencolok lagi, Elvin berupaya “menetralisir” dampak merusak huru-hara politik tahun 1965 yang sangat jelas mempengaruhi kesenian angklung pada periode-periode setelahnya. Saya tidak tahu Elvin, sengaja atau tidak, cenderung mengabaikan kelompok kesenian Agung Wilis dari Kelembon (bahkan tidak dibahas sama sekali dalam bukunya) dan Sri Muda dari Temenggungan yang kuat berafiliasi dengan Lekra dan menjadi contoh praksis seni realisme-sosialis. Endro Wilis (Agung Wilis) dan Mohamad Arief (Sri Muda) yang merupakan tokoh, dan bahkan boleh dikatakan perintis gending angklung modern – bersama Mahfud –, hanya relatif muncul sekilasan dalam buku tersebut. Penghargaan-penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pertama pada masa rezim Orde Baru yang disebut membangkitkan kembali kesenian Angklung Banyuwangi setelah 1965 disertai dengan kutipan-kutipan wawancara para tokoh-tokohnya mau tidak mau dapat dibaca sebagai pembenaran atas penertiban dan pengendalian yang dilakukan melalui sensor-sensor dan pelarangan-pelarangan oleh rezim Bupati Djoko Supaat Slamet. Politik yang hendak diusir dari Angklung: Tabung Musik Blambangan muncul sebagai afirmasi terhadap tindakan-tindakan polisionil[1]. Armjin Pane lebih tujuh puluh tahun lalu dalam artikel “Seniman, Pudjangga, dan Masjarakat” [dalam Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (2000) yang disunting E.Ulrich Kratz] menulis, “Politik itu bagi seniman dan pudjangga bukanlah sarat, melainkan sudah dengan sendirinja ada padanja. . . . Kalau dia bilang, dia tidak mau berpolitik, karena dengan sengadja mendjauhkan politik. Itulah politik!”. Boleh dikatakan pandangan atau pendekatan “apolitis” sudah sendirinya adalah berpolitik, disadari atau tidak. Keberadaan politik dalam seni dan kesenian sudah sangat tua, mungkin lebih jauh dari sejak Plato mengusir keluar para penyair dari negara Republik yang diangankannya.

 Bagaimanapun, Angklung: Tabung Musik Blambangan merupakan upaya besar untuk mendokumentasikan angklung Banyuwangi yang merentang jauh dari masa Angklung Paglak sampai masa modern hari ini. Elvin Hendratha telah bergumul keras dengan kesulitan-kesulitan obyektif yang ditimbulkan oleh karakter lisan dan komunal dalam tubuh kesenian angklung dan kesulitan-kesulitan subyektif yang berkait dengan riwayat masa lalu dan posisi penulisnya sebagai “orang dalam” dalam kehidupan sosial budaya Banyuwangi yang menjadi bingkai besar keberadaan kesenian angklung. Angklung: Tabung Musik Blambangan adalah sumbangsih besar dan sungguh-sungguh pertama dari lare Banyuwangi untuk dunia angklung Banyuwangi dan seni-budaya Banyuwangi secara luas. Terima, Kang Elvin.                                              

 
   

[1] Politik dalam konsep Jacques Ranciere mencakup politics dan police (baca misalnya dalam Disagreement: Politics and Philosophy, diterjemahkan oleh Julie Rose, 1998) dimana politics merepresentasikan kondisi-kondisi ketaksepakatan dan police merepresentasikan kondisi-kondisi yang ditertibkan.

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Sumber : Dwi Pranoto

Editor: Antariksawan Jusuf