Rahasia Pembuatan Angklung Banyuwangi

Elvin Hendratha (dipublikasikan pada Selasa, 14 September 2021 10:01 WIB)
- Opini



Angklung Banyuwangi, merupakan satu paket orkestra kecil yang memiliki keragaman jenis peralatan yang berfungsi membentuk nada-nada orkestrasi. Masing-masing peralatan berkaitan registernya dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya (Elvin Hendratha, Angklung Tabung Musik Blambangan, 2021).  Beragam jenis kesenian angklung di Banyuwangi, didalamnya biasanya terdapat 1 (satu) set angklung bambu, Angklung Lanang dan Angklung Wadon.

Lalu bagaimanakah sebenarnya proses pembuatan Angklung (bambu) Banyuwangi? Pembuatannya diawali dengan melakukan penebangan pohon. Jenis bambu yang dipilih adalah jenis bambu Benel dan bambu Ori, pilihan jenis bambu ini merupakan warisan secara turun temurun. Bambu Benel dipercaya memiliki suara yang lembut dan memiliki stabilitas nada yang tahan lama. Sedangkan bambu Ori dipilih karena nada suaranya sangat tinggi. Sehingga pembuatan satu ancak angklung, sangat lazim juga menggunakan perpaduan dari kedua jenis bambu tersebut. Bambu benel digunakan pada wilah pertama sampai dengan kesepuluh, dimaksudkan untuk menghasilkan suara bernada rendah (bass). Sedangkan Bambu Ori digunakan pada wilah kesebelas sampai dengan kelimabelas karena menghasilkan suara bernada tinggi.

Penebangan dilakukan dengan cara memilih pohon bambu yang sudah tua, biasanya berumur lebih dari 3 (tiga) tahun. Pada bulan Desember hingga Pebruari, adalah masa bertunas pohon bambu, karenanya proses penebangan bambu biasanya dilakukan disekitar bulan Agustus hingga bulan Oktober. Masa dimana bambu dapat mengering sendiri karena udara, bukan kering karena teriknya sinar mentari.

Metode yang digunakan untuk memilih batang dengan mencari batang pohon yang masih hidup, dan yang kedua termasuk yang mati (kering). Memilih batang bambu mati  disebut “Glagaran”. Untuk batang yang hidup dicari batang dengan ciri-ciri batang yang sebagian besar berwarna kekuningan dan lumut kerak yang tumbuh terlalu banyak, serta masih berdaun. Sedangkan glagaran bambu memiliki ciri berwarna kuning dan batangnya tak berdaun.

Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: skb@belambangan.com atau WA telp 0811843457


Pembuat angklung dengan menggunakan Glagaran berdasarkan pengalaman, memiliki kelebihan tidak menyusut dimakan waktu, dan memiliki suara stabil (tidak perlu sering dilaras). Sedangkan pemilihan batang hidup diyakini bahwa tabung angklung tidak mudah pecah. Pada prinsipnya itu dilakukan agar menghasilkan angklung yang berkualitas tinggi dengan suara merdu dan tabung tidak mudah pecah.

Menentukan hari penebangan pohon bambu untuk dibuat angklung di Banyuwangi, berdasarkan keyakinan yang diwarisi secara turun temurun dilakukan pada hari Pahing (hari Jawa). Rentang waktu bulan Agustus sampai dengan Oktober sebagai bulan penebangan, diyakini bahwa Oktober merupakan bulan terbaiknya. Tetapi khusus pemilihan bambu yang menggunakan Glagaran, dapat dilakukan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober.

Pantang menebang bambu sebagai bahan pembuatan angklung pada bulan Desember hingga Pebruari, karena merupakan masa dimana bambu “menyusui”. Pada musim hujan pucuk bambu mulai bertunas, muncul tunas-tunas dan rebungnya. Selain berkaitan dengan konservasi ekologinya, penebangan yang dilakukan pada masa hujan, hasilnya akan mudah menjadi “gabug” karena batangnya melunak. Makanan yang disukai serangga. Selain itu pembuatannya memerlukan waktu yang lebih Panjang, karena harus melalui proses pengeringan, serta suara yang dihasilkan kurang merdu dan kurang stabil (harus sering dilaras).

Setelah menebang batang bambu hidup, harus dikeringkan terlebih dahulu selama sekitar tiga bulan. Tetapi pengeringannya tidak diperbolehkan menjemurnya secara langsung dibawah sinar matahari. Pengeringan batang harus dilakukan secara vertikal dengan posisi pangkal batang di bawah. Apabila batangnya dirasakan belum cukup kering, maka kedua ujung batang pada pangkal ros berikutnya dipotong. Sedangkan untuk bambu Glagaran tidak perlu dikeringkan. Setelah menebang batang glagaran, pembuatnya memotongnya di setiap dua simpul dan segera dilanjutkan dengan proses "Larasan" (harmonisasi nada). Proses larasan dalam menentukan frekeunsi nada pada setiap wilah memiliki kekarakteristikan pada setiap kelompok angklung. 

Ada juga tradisi untuk menyimpan tabung bambu di pogo pawon (atap dapur) sebagai bagian dari proses pengeringannya. Bambu tentunya sudah dipotong-potong dengan ukuran sesuai luasan dapur. Bambu diletakkan disekitar “Bengahan” (kompor dari tanah liat), agar bambu menjadi lebih kering karena terkena hawa panas dan asap. Cara ini disebut sebagai “Jajang Pelanggerangan”, kendati kurang estetik karena kehitaman terkena asap, tetapi cara ini dipercaya akan menghasilkan suara angklung yang “ngeluwung”.

Setiap dusun di Banyuwangi, memiliki kearifan masing-masing dalam proses pengeringan dan pembuatannya. Kelompok angklung di Bades, meyakini bahwa bambu yang merupakan tiang-tiang dari rumah pembakaran batu bata adalah pilihan bambu angklung yang sangat baik. Lamanya pengeringan juga berbeda-beda antara desa/kelurahan/dusun yang satu dengan yang lainnya.

Tetapi keseluruhan proses pembuatan angklung di Banyuwangi, selalu dilandasi dengan kearifan lokal yang mencerminkan adanya upaya konservasi bambu. Prosesnya selalu mengajarkan kesadaran ekologis. Sebuah praktek yang dilakukan secara turun temurun, menyangkut pengetahuan dasar tentang sistem ekologi yang sangat kompleks.

(ditulis dari berbagai sumber)

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Editor: Hani Z. Noor