Resensi Buku Antologi Puisi Keblak-Keblak

Elvin Hendratha (dipublikasikan pada Selasa, 19 Januari 2021 07:53 WIB)
- Resensi



Judul Buku                   : Keblak-Keblak
Jenis Buku                   : Kumpulan Puisi
Penulis                         : Mahawan
Sampul & Ilustrator    : Hani Z. Noor
Penerbit                       : Sengker Kuwung Belambangan
Cetakan                       : Pertama, Juni 2019
ISBN                             : 978-602-53512-4-2

Keblak-Keblak” merupakan buku antologi dari Budayawan Senior Banyuwangi, Mahawan. Dalam usia yang tak lagi muda, Mahawan seperti menantang para muda untuk terus produktif berkarya demi kemajuan Bumi Belambangan. Berbeda jarak dan jaman bukan menjadi halangan bagi pencipta lirik gendhing “Jaran Ucul” dan “Nyebar Jala”, untuk tetap berkarya. Sejak tahun 1974, Mahawan yang sekarang tinggal di Lumajang, sudah aktif dalam dunia kesenian Banyuwangi, bersama BS Noerdian, Andang CY, Machfud Hariyanto, Slamet Utomo, dan Pomo Martadi. Para sejawatnya itu semua telah pergi menghadap Sang Pencipta. Kepergian semua sejawatnya membuat Mahawan merasa sendirian. Mahawan memilih berkokok lantang, menghentakkan kedua sayapnya  demi meramaikan kesenyapan jagat dunia sastra Banyuwangi.   

Buku antologi puisi bertajuk “Keblak-keblak” dirilis pada tanggal 23 Juni 2019, dibuat Mahawan sebagai rasa syukurnya kepada Allah SWT. Rasa syukur karena telah memanjangkan usianya, sehingga penulis bisa sampai pada usia ke-69. Sebuah bonus usia yang menjadi alasan penulis, menyuguhkan puisi-puisinya dalam bentuk “Gurit Pendek Using Religius”. Pada saat Antariksa Jusuf dan Prof. Setya Yuwana menanyakan, “Apakah  Mahawan masih menulis puisi Using, dimanakah karya lainnya?”, Mahawan menjawab "Yang banyak menyimpan karya saya adalah Hasan Singodimayan dan Pomo Martadi”. Setelah sulit mencari dokumennya, maka lahirlah penulisan antologi “Keblak-keblak” ini sebagai jawabannya.  

Buku antologi puisi ini berisi 65 puisi berbahasa Using sangat kaya idiom. Dalam buku ini, penulis menghadirkan puisi-puisi bertema fenomena kehidupan berkebudayaan di Banyuwangi, kasih sayang dan harapan, baik kepada Sang Pencipta ataupun kepada sesama manusia. Hal ini dapat kita temukan di antaranya pada puisi “Belanggur”, “Manjer Kiling”, “Godhong Kates”, “Nggelar Kelasa”, “Sut-sut Jreng” dan masih banyak puisi menarik lainnya. Selain itu, dalam buku ini terdapat 2 (dua) puisi yang merupakan persembahan Mahawan kepada “Sengker Kuwung” dan “Artevac”. Bentuk apresiasi  penulis terhadap debut langkah kedua gerakan seni budaya di Banyuwangi, dalam kemasan memberi semangat dan harapannya.

Penyajian puisi pada buku ini sengaja disuguhkannya dalam bentuk yang padat tetapi tidak njlimet. Amanat religius diselipkan dalam diksi dan idiom yang luar biasa. Sajiannya dikemas dari sebuah tahapan berproses yang cukup panjang, Sejak tahun 1974 melalui fakta kehidupan yang ringan didepan mata, penulis terus berusaha menangkap kegaulauannya. Walau sebenarnya penulisan buku,  dilakukan dengan singkat dan cepat. Mahawan menulis Antologi ini, tidak lebih dari 1 (satu) bulan guna menyajikan karya terbaiknya untuk dapat dinikmati. Buku antologi ini, seperti ekspresi kerinduan Mahawan terhadap tanah kelahirannya: Banyuwangi.

Pada buku ini, Mahawan mengambil pilihan sikap dan penyajian gaya berbeda dalam pengemasan puisinya. Hal itu sangat berbeda dengan Puisi Mahawan yang berjudul “Dhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)”, Puisi pemenang pertama Lomba Penulisan Puisi Using saat HUT VIII Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) “Suara Blambangan” pada tahun 1976. Kemenangan Mahawan menyisihkan nama besar seniman Slamet Utomo, adalah sebuah keputusan sulit para juri. Perdebatan berakhir dengan kesimpulan bahwa, pada puisi Mahawan terdapat terobosan pembaharuan Puisi Using dalam sastra Banyuwangi saat itu.

Puisi MahawanDhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)” tersebut, menarik perhatian para Profesor (Setya Yuwana, Henricus Supriyanto, Suharmono Kasiyun, dan Sugeng Wiyadi) dari Unesa Surabaya untuk diteliti dan menghasilkan buku hasil penelitian dengan judul “Pendekatan Stilistik dalam Puisi Jawa Modern dialek Using”. Puisi “Dhedhali Putih (kanggo mbok Sri Tanjung)” dikemas dalam pilihan diksi panjang yang membuat kerutan dahi. Hal itu berbeda dengan antologi “Keblak-keblak”. Mahawan melakukan pilihan: Padat, berisi, bermain idiom, religius, serta berusaha menangkap thema dari fenomena keseharian di sekitar dengan selipan amanat yang sederhana tapi menggoda. Melalui kesederhanaannya, pembaca Keblak-keblak serasa diajak bermain di sungai menaiki pelepah pisang, didorong menuju kedung kontemplasi agamis dengan tak terasa.

Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: skb@belambangan.com atau WA telp 0811843457


Memetakan Gurit Using Mahawan pada Antologi “Keblak-Keblak”, saya membaginya dalam beberapa klasifikasi:
1. Gurit Using yang telah menjadi Gendhing Banyuwangi.

Buku antologi ini menjadi upaya melakukan pelurusan dan pencatatan karyanya puisi Mahawan sendiri. Beberapa puisi Mahawan digunakan sejawatnya, sebagai lirik lagu Banyuwangi. Perubahan serta pemotongan diksi dalam kesenian Banyuwangi, menjadi kebiasaan yang cukup menganggu dalam khasanah dunia sastra sengaja dilawannya. Belum lagi adanya fenomena kekeliruan penyebutan namanya oleh para muda, dengan mencantumkan nama orang lain. Simak album Jazz Patrol Epeng produksi dari Aftana Alin Production. Pada video dituliskan secara salah bahwa lagu “Nyebar Jala” tercantum karya orang yang berbeda.

Pada buku antologi ini, gurit-gurit karya Mahawan telah digunakan sahabatnya sebagai lirik lagu Banyuwangi, antara lain: “Jaran Ucul”, “Inthing-inthing Es” dan “Muncar” berkolaborasi bersama BS Noerdian, sedangkan lagu “Nyebar Jala” berkolaborasi dengan Machfud Hariyanto. “Jaran Ucul” adalah puisi yang bercerita tentang perjuangan diciptakannya pada tahun 1976, direkam Ria Record dengan alunan suara Siti Maswah dan iringan Angklung Maestro Sutedjo Hadi. “Inthing-inthing Es” terdapat dalam album Bang Cilang Cilung yang direkam oleh Golden Hand melalui suara Pipit dengan iringan musik Johny dkk. Sedangkan “Nyebar Jala” direkam pada tanggal 10 Januari 1979 oleh Ria Record dengan alunan suara khas Fauria Zaini dibawah iringan Angklung Banyuwangi Putra pimpinan Kacung S.Tamat. Yang menarik adalah Puisi Muncar (halaman 5) yang juga dijadikan lirik lagu, belum pernah direkam sama sekali. Sebenarnya lagu “Muncar”, bersama dengan “Umbul-umbul Belambangan” dan “Nyebar Jala” adalah trilogy gending yang biasanya dinyanyikan choir pada jaman Bupati Djoko Supaat Slamet. Lagu dinyanyikan untuk menyambut tamu kehormatan.

2. Gurit Using kondisi sosial budaya masyarakat Banyuwangi

Potret realita kehidupan sosial budaya masyarakat Banyuwangi, ditangkap Mahawan dengan sangat jeli. Berbagai kejadian peristiwa yang telah tercetak kuat diingatannya, dengan mudah dicitrakan dengan lancar dan bernas. Peristiwa-peristiwa sederhana berhasil diolahnya menjadi kritik dan nasihat tentang kebajikan yang apik. Sut-Sut jreng, Thet thiyet-thiyet, Surung Dhayung, Cenggeret, sangat mengasyikkan untuk disimak.

Perhatikan Gurit Using “Nang Jajangan” pada halaman 12 (duabelas), yaitu sbb  :

Nang Jajangan

Nang jajangan
Manuk Sikatan pelencatan
Girange sing kakaruwan


Nang jajangan
Banyu kulah deleweran
Lalare padha ciblungan


Nang jajangan
Godhong garing cicir
Keli mengalor, dhewekan
Ngadhep nang Pengeran

Suasana keceriaan Burung Sikatan dan anak-anak yang tengah bermain, diubah Mahawan menjadi ajang kontemplasi. Kegembiraan diubahnya menjadi perasaan mawas diri akan ketentuan kodrat dan irodat dari Sang Maha Pencipta. Bahwa bersama kegembiraan, selalu ada juga ketidak-kekalan, Ada daun bambu kering jatuh di sungai tempat anak-anak mandi gembira bermain air. Hanyut membujur kearah utara sendirian. Mahawan khawatir idiomnya tidak dapat ditangkap penikmat, ditambahkan satu larik lagi sehingga berjumlah 4 (empat) larik untuk mempertegas “amanat”-nya. Mahawan memperjelasnya, bahwa daun Bambu kering yang gugur hanyut ke utara itu adalah idiom menghadap Sang Pencipta. Ditambahkannya larik,  “Ngadhep nang Pengeran”.

Hal lain adanya pemberontakan perlawan Mahawan dalam menyikapi sifat berkuasa, juga tergambar jelas dalam gurit Jamodin dan Keblak-Keblak (4). Kesewenangan seseorang dalam memperoleh anugerah amanah : kekuasaan, pangkat, dan jabatan. Pada gurit “Jamodin” disindirnya dengan berkata : Pangkat lan derajat mula mesakat / Bisa dadi laknat / Pangkat lan derajat rasane nikmat /  Angger ngejak amanat / Donya Temeka akhirat. Mahawan mengingatkan bahwa semua amanah itu akan terus dipertanggung jawabkan hingga akhirat.

3. Gurit Using Tokoh-tokoh

Sumber proses intuisi dilakukan tidak terbatas kepada alam saja (Banyuwangi, Muncar, Tumpak Sewu), namun Mahawan tak pelak memperhatikan personal “tokoh-tokoh disekitarnya”. Melalui ketokohan, Mahawan menyelipkan amanat-amanat kebajikan.

Adalah Mbok Zarkasi, Kik Emang, Mbah Bukani, Hasan Ali, dan Bik Caamah telah menjadi “role-model”. Mahawan sengaja menyelipkan keteladanan dalam amanat yang dibungkus diksi indah kedalam jejak langkah sang tokoh. Mulai orang biasa sampai dengan Hasan Ali budayawan Banyuwangi dari Mangir, ditokohkannya. Hasan Ali telah pergi, Mahawan melakukan pilihan cerdik, tidak ingin terjebak subyektivitas karena banyak sejawat seniman dan budayawan Banyuwangi. Melalui gurit Hasan Ali, diharapkannya bisa membuat jenggirat tangi

Perhatikan juga, gurit using halaman 26 (duapuluhenam) yang berjudul “Belanggur”. “Jemelegur suwarane belanggur / Masjid Jami Banyuwangi dadi seksi / Man Padli Kur kang nyolok ambi geni….”. Sosok Man Padli, sebagai tokoh “hang nyolok ambi geni” adalah tokoh fenomenal Masjid Jamik pada tahun 1976-an. Kehadirannya saat ngerandhu buka dengan berjalan pincang membawa belanggur selalu ditunggu. Pada penutup Mahawan tak lupa menyelipkan amanat: Suwarane belanggur saiki wis singana / Taping Rahmate Allah / terus teka nang menungsa.

Ketokohan Ibu pada “Godhong Kates” juga menjadi suri tauladhan yang mengharu biru. Gurit yang diakhiri dengan larik “Methiki Godhong Kates / Enget emak sampek eluh netes / Eluh dalane urip / Eluh sarane urip /”. Perjuangan ibu yang menginginkan upaya terbaik bagi anaknya, disuguhkan melalui tetesan air mata Mahawan.

4. Gurit Using Keblak-keblak

Pada buku antologi puisi Mahawan, terdapat 5 (lima) gurit using yang berjudul sama: Keblak-Keblak. Kepakan sayap dan kukuruyuk Mahawan, mengajak pembaca lebih mendekatkan diri untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta. Kelima puisi itu selalu diawali dengan larik : “Keblak, keblak, keblake pitik kukuruyuk”.

Kelima gurit ini  sangat kaya idiom dan amanat, sangat enak dibaca. Tetapi sayang belum begitu kuat, antara kaitan dan runtutan kronologis misi antara satu dengan yang lain. Saya membayangkan kelimanya merupakan representasi dari perjalanan waktu-waktu (sholat). Imajinasi saya timbul ketika membaca Keblak-keblak (1) pada “trantang-trantang wayahe wis arep mangkat esuk”. Sedangkan pada diksi “wayahe wong padha nabuh bedug” pada Keblak-keblak (2), saya keliru menganggapnya sebagai penerusan citraan waktu lohor.
Namun Mahawan memilih tak bergerak, sengaja mengikatkan diri dengan waktu shubuh saja. Melihat ilustrasi sampul buku ayam jago, seharusnya terdapat perilaku berbeda dengan ayam babon. Keblakan Ayam Jago bisa dilakukan pada waktu kapanpun, bahkan keblakannya mengisyaratkan tujuan perilaku yang berbeda-beda.  Mahawan sengaja mengikatnya hanya pada persamaan: judul, larik dan persamaan setting waktu (subuh), walaupun kelima gurit itu terletak dalam buku yang sama. Mahawan sengaja membedakan, antara Keblakan yang satu dengan yang lainnya. Saling berdiri sendiri. Dan itu menjadi pilihan penulis.

Melalui buku antologi Keblak-Keblak, Mahawan bertutur secara halus bagaimana caranya menuju kebaikan. Dunia sastra Using khususnya Gurit Using, menjadi senjata pamungkas kegalauannya pada kondisi yang merisaukannya. Mahawan mengingatkan kita, melalui keahliannya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus untuk dibaca dan dikoleksi, mengingat puisi-puisi yang tersaji didalamnya mengingatkan kita kepada hubungan antara sesama manusia dan hubungan kepada Sang Pencipta berupa doa dan harapan serta rasa syukur kepada-Nya. Gurit ini bak siraman es di tengah keringnya panenan ladang sastra Banyuwangi.

Terima hang gedhi “Anang Mahawan” nggih.

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Sumber : Elvin Hendratha

Editor: Hani Z. Noor