Selamat Membaca belambangan.com

Antariksawan Jusuf (dipublikasikan pada Sabtu, 21 September 2019 11:46 WIB)
- Dari Redaksi



Saya membuka lembaran-lembaran buku Kalangwan. Tidak seperti sub-judulnya yang “sastra jawa kuno selayang pandang” isi buku tersebut tidak selayang pandang karena bahasannya yang cukup mendalam dan komprehensif. Buku yang ditulis oleh ahli bahasa dan sastra Jawa Kuno, Prof. Dr. P.J. Zoetmulder, menyinggung antara lain soal naskah Sudamala dan Sritanjung yang sangat berbeda semangatnya dengan sastra kidung yang ditemukan di bagian Jawa lain atau di Bali.

Naskah-naskah yang ditemukan di Banyuwangi abad 17 atau 18 isinya lebih tentang kerakyatan bukan tentang cerita keraton seperti kidung-kidung lainnya yang memuja raja-raja dan kalangan keraton lainnya.

Tak banyak karya tulis (sastra) yang ditemukan di Banyuwangi. Selain Serat Sritanjung, ada Serat Sudamala yang merupakan pendahulu Sritanjung, Serat Ambiya, Serat Ahmad, Serat Damarwulan, Lontar Yusup yang sampai sekarang masih dibaca rutin di Kemiren.

Penyusun Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia, almarhum Hasan Ali, percaya peperangan yang terus menerus sejak masa Tawang Alun sampai akhir VOC tahun 1800an membuat daerah yang pernah memiliki aliran sastra tersendiri menjadi miskin bahasanya. Akhirnya hanya tersisa “kesastraan lisan.”

Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: skb@belambangan.com atau WA telp 0811843457


Dikhawatirkan bahasanya yang dikategorikan sebagai bahasa yang kecil (penutur kurang dari satu juta orang), semakin lama mengalami kemunduran dan bisa jadi punah.

Sebagai pewaris, orang Banyuwangi tidak mau itu terjadi. Salah satunya adalah dengan memperbanyak karya tulis berbahasa Using. Termasuk di dalamnya, pada jaman serba digital sekarang, menyediakan media seperti ini. Meskipun media ini tidak melulu pengantarnya berbahasa Using, tetapi masih menggunakan bahasa Indonesia.

Sejak tahun 2000an juga sudah dimulai perjuangan untuk mengajarkan bahasa Using di sekolah, dengan tertatih-tatih. Karya tulis Using menghadapi tantangan berat karena perangkat bahasanya belum disusun sebelum itu sehingga belum ada pembakuan. Sekarang sudah ada Tata Ejaan dan kamusnya, tetapi tidak sedikit yang bersuara kencang menentang sistem yang dikenalkan dan sudah diajarkan di sekolah, tetapi tanpa karya ataupun menawarkan alternatif sistem yang bisa digunakan.

belambangan.com nantinya akan diisi dengan banyak hal yang berhubungan dengan Banyuwangi. Dari opini, laporan, cerita pendek, dan kuliner. Isi opininya bisa tentang segala sesuatu yang menyangkut Banyuwangi. Laporannya menyakup berbagai kegiatan yang berlangsung yang berhubungan dengan Banyuwangi. Cerita pendeknya berbahasa Using. Dan kulinernya bisa tentang resep masakan Banyuwangi, bisa juga laporan makanan enak seantero Banyuwangi.

Siapa yang bisa menulis dalam media ini? Siapa saja. Mudah-mudahan dengan editor yang baik, media ini dapat menjadi rujukan sehat tentang Banyuwangi.

Tidak kurang harapan lainnya adalah media ini dapat menampung banyak hal, terutama ikut mengembangkan bahasa Using tulis menuju era baru bahasa Using.

Salam,

Kang Aang

 aang@belambangan.com

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Editor: Antariksawan Jusuf