Angin Segar Untuk Bahasa Using

Antariksawan Jusuf (dipublikasikan pada Senin, 22 November 2021 09:08 WIB)
- Opini



Lahan tepat untuk iklan anda di sini.

Hubungi: [email protected] atau WA telp 0811843457


Bagaimana posisi bahasa Using? Apakah benar Using hanya sebagai dialek bahasa Jawa? Atau Using menjadi bahasa tersendiri? Bagaimana menurut penilaian Badan Bahasa?
   Kalau merujuk pada penelitian bahasa, misalnya pada disertasi Suparman Herusantosa (UI, 1987) berjudul Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi dan skripsi Satwiko Budiono (UI, 2015) berjudul Variasi Bahasa di Kabupaten Banyuwangi: Penelitian Dialektologi, keduanya menunjukkan sekitar 70 persen kosakata Using dan Jawa mempunyai kesamaan.
   Maka tidak mengherankan kalau Badan Bahasa sampai pada kesimpulan keduanya adalah satu bahasa hanya berbeda dialek.
   Sementara orang Banyuwangi berkeyakinan bahwa Using adalah bahasa tersendiri. Meski sama-sama berakar dari bahasa Jawa kuno, bahasa Using lebih banyak memegang teguh aturan dan kata-kata bahasa induknya. Misalnya pada kata sapaan 'isun, sira, rika' yang di bahasa Jawa termasuk kategori kata-kata arkais yang hanya muncul dalam istilah pewayangan, serta seperti bahasa Jawa kuna, bahasa Using tidak mengenal tingkat tutur berdasarkan kasta sosial penuturnya. Pada keluarga-keluarga Using seperti di Kemiren, sangat jamak anak berbahasa "ngoko" kepada orang tuanya. Memang belakangan bahasa Using mengenal "besiki" yang sepadan dengan "krama" dalam bahasa Jawa tetapi dipercaya itu perkembangan baru setelah tahun 1900an. Ada catatan sarjana Belanda J.W. Stoppelar tahun 1925 bahwa orang-orang Using, terutama yang tinggal di wilayah pegunungan, tidak mengenal perbedaan antara "ngoko" dan "krama". Bagaimana bisa bahasa yang lebih mendekati aslinya hanya berstatus "dialek" dari sebuah bahasa kreasi baru (yaitu bahasa Jawa modern)?
   Pak Suparman dalam disertasinya, menggunakan instrumen Leksikostatistik, memperkirakan, kedua bahasa itu berpisah sekitar tahun 1170an.
  Orang Using juga meyakini bahwa Using adalah bahasa tersendiri karena di dalamnya terdapat berbagai dialek yang berbeda antar desa, misalnya Penataban, Melik, Aliyan, Gintangan dan sebagainya. Bahkan ada yang lebih ekstrim seperti di Aliyan orang bisa dikenali dusunnya dalam satu desa yang sama dari logatnya. Memang perlu penelitian lebih lanjut masalah dialek antar desa ini.
   Kalau amatan penulis, mengapa dua penelitian pak Parman maupun Satwiko menyimpulkan bahwa ada 70 persen kosakata yang sama karena penelitian itu mengambil sampel dari semua kecamatan. Padahal kalau menurut perhitungan jumlah kecamatan sekarang, bahasa Using secara mayoritas digunakan hanya di 12 dari 25 kecamatan yang ada. Di 13 kecamatan lainnya, mayoritas penutur berbahasa Jawa atau Madura. Wajar kalau istilah-istilah Jawa dan Madura muncul dalam penelitian tersebut.
   Nasib soal anggapan bahasa Using sebagai dialek ini menimbulkan persoalan. Gubernur Jawa Timur tahun 2014 pernah mengeluarkan Pergub No. 19/2014 yang isinya hanya mengakui bahasa Jawa dan Madura yang diajarkan di sekolah-sekolah di wilayahnya. Pergub ini seketika mematikan pengajaran bahasa lain yang ada di Jawa Timur, termasuk bahasa Using. Sebagian sekolah menghentikan pengajaran bahasa Using yang sudah dilakukan sejak 2002 dan mendapat dorongan dengan timbulnya Perda no. 5 tahun 2007 tentang Pengajaran bahasa Using.
   Dengan Pergub 19/2014 itu, panitia Penghargaan sastra berbahasa daerah yang dimotori oleh sastrawan almarhum Ajip Rosidi, Rancage, memasukkan karya berbahasa Using ke dalam kategori sastra berbahasa Jawa. Untungnya tahun 2016, karya sastra Using Agul Agul Belambangan karya Moh. Syaiful pernah menyabet penghargaan itu meski "dikerubuti" 18 judul karya satra berbahasa Jawa.

Angin Segar dari Timur

Pada saat menghadiri Lokakarya Naskah Terjemahan Buku Karya Sastra Berbahasa Daerah yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) di Surabaya tanggal 20-21 November lalu, saya hadir bersama kang Abdullah Fauzi. Buku saya Markas Ketelon dan buku kang Ujik Pereng Puthuk Giri merupakan 2 dari 20 naskah yang diterjemahkan oleh BBJT ke bahasa Indonesia.
   Pada saat upacara penutupan, saya mendengar angin segar dari kepala BBJT, Dr. Asrif, M. Hum yang berasal dari timur, yaitu Wakatobi, Sulawesi.
   Untuk mengatasi masalah sebutan dialek atau bukan pada Using, beliau yang mengaku selalu dikejar-kejar oleh orang-orang Belambangan (Banyuwangi) soal nama bahasa Using, mengatakan:
"Saya sudah mempunyai satu definisi yang mungkin lebih netral tentang bahasa Using.
Bahwa bahasa Using itu bahasa yang digunakan di wilayah (ujung) timur pulau Jawa, sedang yang di wilayah lain bernama bahasa Jawa," kata pak Asrif.
   Sebagai kelanjutannya untuk memperbaiki istilah "dialek Using" sebagai bagian dari bahasa Jawa, "Kami akan ajukan revisi soal istilah dialek Using sebagai bagian dari Banyuwangi."
   Mudah-mudahan segera terlaksana.

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Editor: Hani Z. Noor